Donita dan Bola Tangan: Kiprah Mahasiswi FDK UIN Suska Riau di Level Nasional

FDK UIN SUSKA RIAU – Langkah Donita menuju dunia olahraga tak selalu lurus. Mahasiswi Program Studi Ilmu Komunikasi Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Sultan Syarif Kasim (FDK UIN Suska) Riau angkatan 2019 ini justru menemukan panggilannya di cabang olahraga bola tangan pada Juli 2023, sebuah perjalanan yang terbilang singkat, namun penuh makna dan prestasi.

Awalnya, Donita sama sekali tak membayangkan akan berdiri di lapangan bola tangan, mengenakan seragam daerah, dan berlaga di ajang nasional. Ketertarikannya bermula dari sebuah kesempatan. Ia dijanjikan menjadi salah satu atlet yang bertanding di ajang Pekan Olahraga Wilayah (Porwil) Riau 2023, asalkan ia mau berlatih dengan serius dan menunjukkan perkembangan. Kesempatan itu datang lebih cepat dari yang dibayangkan ketika salah satu atlet mengundurkan diri. Donita pun dipercaya mengisi posisi tersebut.

Perkenalannya dengan bola tangan tak lepas dari peran orang-orang di sekitarnya. Seorang teman bernama Opa menjadi pintu awal, disusul bimbingan dua pelatih yang sabar dan konsisten, Coach Rafly Henjilito dan Coach Ahmad Yani.

“Dari merekalah saya belajar memahami bola tangan, bukan hanya sebagai permainan, tetapi sebagai olahraga yang menuntut kerja sama, disiplin, dan ketahanan mental,” ucapnya.

Debut kompetisinya dimulai di Porwil Riau 2023, ajang yang menjadi titik balik dalam perjalanan atletiknya. Saat itu, Riau menjadi tuan rumah dan wajib menurunkan tim bola tangan melalui seleksi khusus. Bagi Donita, Porwil bukan sekadar pertandingan, melainkan pengalaman pertama tampil di level nasional. Hasilnya pun manis. Tim bola tangan Riau berhasil meraih medali emas sekaligus tiket menuju Pekan Olahraga Nasional (PON) Aceh–Sumatera Utara 2024. Prestasi ini terasa semakin istimewa karena menjadi kali pertama tim bola tangan Riau lolos ke PON.

Sebelum menekuni bola tangan, Donita sejatinya telah akrab dengan dunia olahraga. Saat masih SMA, ia pernah mengikuti Pekan Olahraga Pelajar Daerah (POPDA) 2018 di cabang tenis meja. Namun, bola tangan memberikan pengalaman yang berbeda, lebih kolektif, lebih emosional, dan sarat nilai kekeluargaan.

Tak semua perjalanan berjalan mulus. Di ajang PON 2024, Donita dan timnya harus menerima kekalahan telak dari tim Jawa Barat dan Kalimantan Timur. Kekalahan itu menjadi pelajaran berharga. Ia menyadari bahwa lawan-lawan mereka telah mengenal dan menekuni bola tangan jauh lebih lama, dengan persiapan yang matang. “Dari situlah saya belajar bahwa prestasi besar menuntut proses panjang dan kesabaran,” imbuhnya.

Di balik kegigihannya, ada dukungan keluarga yang tak tergantikan. Izin dan restu orang tua menjadi fondasi utama langkahnya sebagai atlet. Ia juga mengakui peran besar para pelatih, teman seperjuangan, serta Opa yang pertama kali mengajaknya berlatih. Dukungan itulah yang membuat Donita bertahan, bahkan semakin yakin menatap masa depan di dunia olahraga.

Bagi Donita, bola tangan bukan sekadar cabang olahraga. Ia adalah ruang belajar tentang arti kebersamaan dan kekeluargaan. Di lapangan, ia menemukan solidaritas, kepercayaan, dan semangat untuk tumbuh bersama.

Ke depan, Donita menargetkan prestasi yang lebih tinggi. Ia bermimpi meraih medali emas di PON berikutnya dan melangkah lebih jauh hingga ke ajang SEA Games. “Saya ingin menjadi atlet profesional yang mampu mengharumkan nama daerah dan bangsa,” tukasnya.

Menutup kisahnya, Donita berpesan kepada mahasiswa lain yang ingin berprestasi di bidang olahraga agar selalu rajin berlatih dan konsisten. Menurutnya, mendengarkan arahan pelatih, menjaga sikap, dan menyiapkan mental yang kuat adalah kunci utama. “Jangan pernah merasa kesal pada pelatih,” ujarnya, “karena dari merekalah kita belajar menjadi lebih baik,” pungkasnya.